Lumajang Dorong Kapulaga Jadi Komoditas Ekspor Unggulan

Lumajang, 13 Oktober 2025 – Pemerintah Kabupaten Lumajang terus mendorong pengembangan komoditas unggulan daerah, termasuk tanaman kapulaga yang kini mulai menunjukkan potensi besar sebagai salah satu komoditas ekspor andalan.

Dalam sambutannya kepada Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Situbondo dan tim yang berkunjung, Kepala Bidang Hortikulura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lumajang menegaskan bahwa Lumajang merupakan daerah agraris dengan mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani. Oleh karena itu, sektor pertanian menjadi prioritas utama pembangunan daerah.

“Produk unggulan Lumajang seperti Pisang Mas Kirana, Pisang Agung, Salak Jiwolu, Durian Kembang Lamajang, hingga Kambing Senduro telah dikenal luas, bahkan beberapa di antaranya telah mendapatkan sertifikasi mutu nasional dan internasional seperti Global GAP,” ujar Hendra.

Salah satu komoditas yang kini tengah naik daun adalah kapulaga, tanaman obat yang berkembang pesat di kawasan Lumajang karena kondisi agroklimat yang mendukung. Kapulaga tumbuh optimal di ketinggian 300–1.000 meter di atas permukaan laut, dan tiga kecamatan dengan potensi terbesar adalah Kecamatan Senduro (2.701 ha), Pasrujambe (2.050 ha), dan Gucialit (235 ha), dengan produktivitas rata-rata mencapai 2,5–3 kuintal per hektare.

Selain milik petani, kapulaga juga ditanam di lahan Perhutani seluas 85 ha di Senduro dan 1.200 ha di Pasrujambe. Ekspor kapulaga dari Lumajang telah berlangsung secara rutin, dengan volume 17–20 ton setiap dua minggu melalui pelabuhan di Surabaya ke berbagai negara seperti Tiongkok, Singapura, Timur Tengah, dan Belanda.

Kelompok Tani Argomulyo IV menjadi salah satu dari tiga pengepul besar di Lumajang. Selain itu, banyak pengepul kecil lainnya yang memasok ke wilayah-wilayah seperti Surabaya, Semarang, Magelang, hingga Jawa Barat.

“Peluang ekspor kapulaga sangat terbuka, tetapi kuncinya adalah mutu. Maka dari itu, kami fokus pada peningkatan kualitas budidaya dan pascapanen melalui pelatihan GAP (Good Agricultural Practices) dan GHP (Good Handling Practices),” tambah Hendra.

Pemerintah Kabupaten Lumajang menargetkan terbentuknya kawasan sentra produksi kapulaga berkualitas tinggi. Hal ini diharapkan tidak hanya memperkuat posisi Lumajang di pasar global, tetapi juga mendorong peningkatan kesejahteraan petani dan pertumbuhan ekonomi daerah.