Tren Kurban Berubah, Kambing Senduro Kini Jadi Pilihan Favorit Masyarakat

Menjelang Hari Raya Iduladha 2026, kambing Senduro asal Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, semakin menguat posisinya sebagai salah satu hewan kurban yang paling diminati di pasar regional maupun luar daerah.

Di tengah tren kenaikan harga sapi kurban, masyarakat mulai mengalihkan pilihan pada kambing sebagai alternatif yang lebih terjangkau namun tetap memiliki kualitas daging unggul. Dalam konteks ini, kambing Senduro muncul sebagai primadona baru yang memperkuat citra peternakan lokal Lumajang.

Kambing khas ini dikenal memiliki postur tubuh ideal, tingkat produktivitas baik, serta kualitas daging yang telah dikenal luas oleh para pembeli. Faktor tersebut membuatnya memiliki daya saing tinggi dibandingkan jenis kambing lainnya di pasaran.

Pedagang kambing di kawasan Tanah Abang, Farel, menyebut kambing Senduro menjadi jenis yang paling banyak dicari menjelang Iduladha.

“Yang paling banyak dicari itu kambing Senduro. Orang suka karena bentuk tubuhnya bagus dan kualitas dagingnya juga baik,” ujarnya, Selasa (26/5/2026).

Saat ini, harga kambing Senduro berada pada kisaran Rp3 juta hingga Rp10 juta per ekor, tergantung ukuran dan kualitas ternak. Harga tersebut relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga tetap menarik bagi masyarakat dari berbagai kalangan.

Di tingkat hulu, meningkatnya permintaan ini memberikan dampak langsung bagi peternak lokal di Desa Senduro. Salah satunya Muklis, peternak yang menyebutkan bahwa permintaan kambing Senduro terus mengalami peningkatan menjelang Iduladha.

Menurutnya, pasar kambing Senduro tidak hanya berasal dari Lumajang, tetapi juga telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia, menandakan bahwa reputasi kualitas ternak lokal ini semakin dikenal luas.

Fenomena ini menunjukkan bahwa sektor peternakan rakyat di Lumajang tidak hanya berfungsi sebagai penopang ekonomi desa, tetapi juga memiliki potensi sebagai komoditas unggulan yang mampu bersaing di pasar nasional.

Di sisi lain, kenaikan harga sapi kurban yang mencapai Rp3 juta hingga Rp4 juta per ekor dibanding tahun sebelumnya turut mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat. Kambing menjadi pilihan rasional tanpa mengurangi nilai ibadah kurban, sehingga permintaannya meningkat signifikan.

Lebih dari sekadar tren musiman, meningkatnya popularitas kambing Senduro memperlihatkan adanya penguatan ekosistem ekonomi peternakan lokal yang berbasis kualitas, reputasi, dan kepercayaan pasar.

Dengan momentum Iduladha, kambing Senduro tidak hanya menjadi komoditas ekonomi, tetapi juga simbol potensi daerah yang mampu mengangkat kesejahteraan peternak dan memperkuat posisi Lumajang sebagai salah satu sentra peternakan unggulan di Indonesia. (MC Kab. Lumajang/Ard/An-m)