Dari lahan sederhana di Dusun Lemah Gatel, Desa Jengrong, Kecamatan Ranuyoso, harapan itu tumbuh perlahan. Bukan hanya dari batang-batang pisang yang mulai menghijau, tetapi dari semangat petani yang kini melihat masa depan lebih pasti melalui komoditas lokal bernama Pasak Kresek Majang
Pisang ini bukan sekadar tanaman. Di tangan petani, ia berubah menjadi simbol pergeseran cara bertani, dari yang sebelumnya bergantung pada hasil panen semata, kini berkembang menjadi sistem usaha yang dimulai sejak pembibitan.
Di lahan seluas 0,4 hektare milik Kelompok Tani Pager Gunung, sekitar 350 pohon pisang yang baru berusia lima bulan tumbuh subur. Daunnya lebar, batangnya kokoh, dan anakan mulai bermunculan. Namun yang lebih menarik, sebelum buahnya terlihat, permintaan bibit sudah lebih dulu datang.
Dalam keterangannya, Senin (4/5/2026), Ketua Poktan Pager Gunung, Sarui, mengaku tidak menyangka antusiasme pasar begitu cepat.
“Tanaman belum berbuah, tapi pesanan bibit sudah ratusan. Ini membuat kami semakin yakin bahwa ini bukan sekadar tanaman biasa,” ujarnya.
Fenomena ini menjadi penanda bahwa nilai ekonomi Pasak Kresek tidak hanya terletak pada hasil panen, tetapi juga pada proses budidaya yang terencana. Petani mulai memahami bahwa bibit berkualitas adalah pintu awal dari rantai ekonomi yang lebih panjang.
Perubahan ini tidak terjadi begitu saja. Melalui Sekolah Lapang mandiri yang didampingi petugas POPT, petani belajar memahami tanaman secara lebih utuh, dari teknik pembibitan, pengendalian hama, hingga menjaga kesehatan tanah.
Metode pecah bonggol yang digunakan untuk pembibitan, misalnya, bukan hanya menekan biaya, tetapi juga membangun kemandirian. Petani tidak lagi bergantung pada pasokan luar, melainkan mampu memproduksi bibit sendiri dengan kualitas terjaga.
Di sisi lain, penggunaan agen hayati seperti Trichoderma dan Metarizium menjadi bagian dari pendekatan baru dalam bertani, lebih ramah lingkungan, lebih efisien, dan lebih berkelanjutan.
Koordinator POPT Kabupaten Lumajang, Waspodo Budi, melihat ini sebagai perubahan pola pikir yang penting.
“Petani sekarang tidak hanya menanam, tetapi juga memahami sistemnya. Ketika pengetahuan meningkat, hasilnya akan mengikuti,” ujarnya.
Optimisme juga datang dari Perkumpulan Petani Pangan Nasional (P3NA) Jawa Timur yang menilai Pasak Kresek Majang memiliki peluang besar menjadi identitas baru pertanian Lumajang. Namun, mereka mengingatkan bahwa penguatan tata kelola tetap diperlukan, terutama dalam menjaga kualitas bibit dan stabilitas pasar.
Di tengah berbagai tantangan pertanian, kisah Pasak Kresek Majang menghadirkan narasi yang lebih mencerahkan, bahwa kemandirian petani bisa tumbuh dari inovasi sederhana, kolaborasi, dan kemauan untuk belajar.
Dari bibit kecil itu, Lumajang tidak hanya menumbuhkan tanaman, tetapi juga menanam harapan baru: pertanian yang lebih kuat, petani yang lebih mandiri, dan masa depan yang lebih sejahtera. (MC Kab. Lumajang/Efendi/An-m)